Hai. Gue kangen blog ini. Hahaha.
Ada tiga postingan yang ketunda gara-gara ke-hectic-an yang gak jelas ujung dan pangkalnya.
Tapi postingan yang satu ini gua niatin untuk kelar sekarang juga karena ini adalah hal yang penting buat gue saat ini.
Dua minggu ke belakang gue lagi terbeban sama suatu masalah yang sebenernya pasti dialami banyak orang, yaitu
"Guilty Feelings"
Gue sadar, semakin gue tumbuh besar, ternyata masa pendewasaan gue gak sempurna. Awalnya pingin mengalah, berusaha untuk bersikap bijak dan objektif dalam menghadapi masalah, dan gue rasa mudah melakukannya. Selain itu, gue rasa juga, gue berhasil. Tapi rasa itu patah, kemarin sore.
Jauh sebelum gue menulis tentang hal ini, gue banyak berpikir tentang, sebenarnya kalau kita menghadapi masalah itu, kita harus gimana? Bagaimana seorang yang dewasa menghadapi dan mengatasi masalah? Gak ada jawaban pasti yang gue dapat. Sebagian orang bilang, "Ngalah aja! yang waras mah diem". Sebagian lagi bilang "Wah gak bisa! Lo harus lawan lah!"
Dari setiap masalah yang berbeda, selalu ada pendekatan baru yang gue dapatkan, dan gue coba semuanya. I'm tring for being matured, dengan cara mengalah, gak reaktif, seperti orang dewasa pada umumnya yang gue lihat di film-film. Tenang dan berwibawa. But I think, I turned it to the wrong way.
Ternyata yang gue lakukan bukannya menyelamatkan gue dan orang lain dari masalah, tapi menyelamatkan orang lain dan memasukkan gue ke dalam masalah.
I found my self drowned alone in that valley named guilty feelings.
Setiap kali bertumbuk sama suatu masalah, ketika gue tau gue salah, I blame myself all the way. Gue berusaha menenangkan masalah dengan mindset "Yaudah, biar ini cepet kelar. Gue aja yang minta maaf".
Semangat yang gue punya pada akhirnya bukan semangat untuk menyelesaikan, tapi menghindar dari suatu masalah yang lebih besar. Nampaknya jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk lari dan menghentikan masalah secara cepat dengan menutup lubang permasalahannya dibanding mengeluarkan usaha lebih untuk bisa menyelesaikan dan berdamai dengan masalah itu.
Alasannya apa? Simple. Sombong, dan egois.
Sombong karena pada kenyataannya emang gue ada kesalahan di dalamnya dan gak mau hal itu diungkit terus-menerus.
Egois karena gamau ngerasain sakit dan ngerasain renggang dengan orang yang, sedihnya adalah orang terdekat.
Akhirnya apa? Ya tentu menghasilkan produk-produk yang gak sehat.
Overthinking, stress, cemas, dan lain-lain.
Long-short-story, gue diperhadapkan dengan situasi yang mau-gak-mau bikin gue harus mengambil sikap, dan akhirnya ter-blow-up semuanya. Di masa itu pun, gue tetap memilih untuk memposisikan gue sebagai orang yang bersalah dan berusaha untuk gak mencari pembelaan sama sekali. Gue telan semua kemarahan yang mencuat saat itu just to calm the storm, but then, I die inside.
Setelahnya, someone reached me out and talk to me.
Poin utama yang akhirnya membuat gue tersadar untuk segera keluar dari perasaan ini adalah, dia bilang
"Kalau lo tau lo salah, yaudah, toh lu udah minta maaf tadi, sekarang waktunya lo belajar untuk gak ngulangin kesalahan yang sama. Tapi, lo gak perlu merasa bersalah sama dia, karena dia juga gak sebaik yang lo pikirin"
Bukan tentang, oh berarti dia yang salah dong? hahaha mampus.
Gak.
Tapi di saat itu gue sadar kalau gue memandang semuanya terlalu putih, terlalu ideal. Gue terlalu memposisikan bahwa, yaaa, memang gue yang salah tanpa pertahanan diri dan research apapun atas orang lain.
I'm not saying that I'm a good person, sehingga gue gak berpikiran yang jelek sama orang dan anggep semua orang itu baik. Tapi gua menyadari pada akhirnya bahwa sikap gue yang terlalu naif akhirnya membawa gue pada perasaan bersalah tanpa akhir.
Kurang lebih dua minggu gue menutup dan menyiksa diri gue sendiri dengan pemikiran bahwa gue yang jahat dan gue yang pantas disalahkan.
Hari itu gue belajar, gak melulu orang yang gue sakitin itu gak menyakiti gue. Gue hanya terlalu naif untuk mengakui bahwa gue juga disakiti. Mengorbankan kebaikan gue, untuk menyelamatkan orang lain yang bahkan gak sedikitpun memikirkan keselamatan gue.
Memang bener ya kata orang-orang, minta maaf, belajar. Maafkan, tapi jangan lupakan.
Comments
Post a Comment