Opinion pt.1

 Hai! Astaga, udah lamaaaa banget gak nulis!

Sebenernya udah kangen banget, sih. Udah lama banget pengen nulis, cuma karena harus ngerjain TA jadinya gak bisa nulis. Lebih tepatnya berusaha buat terus-terusan ngeredam keinginan untuk nulis sesuatu di sini dan fokus sama pengerjaan TA aja gitu. Walaupun seperti yang kita sama-sama tau aja ya kalau misalnya walaupun gua fokus sama satu hal itu, tetap aja tuh nulisnya gak selancar kalau nulis di sini, hahahaha.

Anyway, hari ini gua mau ngetik opini gue (sesuai dengan judul) tentang suatu postingan yang gue liat baru aja tadi pagi. Sebenernya yan nge-post ini juga masih temen gue, sih. Temen virtual gitu lah. Isi postingannya gini:

"Orang sukses itu menjadi sukses karena:

(1) Dididik dengan benar, terlepas dari apakah dia kaya atau miskin

(2) Dididik oleh kesulitan yang dia hadapi

Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.

Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak generasi yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?

Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hdiupnya banyak.

Generasi berikutnya

Apa yang terjadi dengan hasil thinking frame 'dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah'?

#siapnikah"

Oke. Karena ini adalah postingan tentang opini gue, jadi gue mau menuliskan satu kalimat yang jadi basis gue selama nulis ini.

Opini dia tidak salah, dan opini guepun sama.

Pas gue baca postingan ini, sebenernya gue pengen banget langsung ngutarain yang gue tulis di sini di kolom komentarnya dia langsung. Tapi, karena gue gak tau konteks kenapa dia nulis begitu, gue jadi gak berani untuk ngungkapin ini ke dia. Makanya tulisan ini masuk ke dalam blog ini. Karena blog ini adalah tulisan-tulisan gue yang gak berani gue utarain langsung karena gue terlalu cupu untuk mengahdapi perbedaan pendapat-dan sampai debat. hahahahhaha

Pertama dia bilang bahwa orang yang sukses dididik dengan baik oleh orang tuanya, dan dididik oleh kesulitan. Sampai di sini, gue setuju sekali. Paragraf berikutnya pun tidak menjadi masalah buat gue pribadi.

Tetapi, waktu baca bagian pertanyaan yang dia berikan, di sini gue mulai ngerasa agak keaganggu nih. Soalnya dia tulis "Kenapa kita memberikan semua kemudahan" dengan kalimat sebelumnya "Jika kita ingin mencetak generasi bermental baja"

Siapa? Siapa yang mau? Siapa yang punya kepentingan dari menjadi orang bermental baja? Menurut gue, harusnya bukan kita, tetapi mereka (yang dalam postingan ini bisa gue asumsikan anak-anak generasi Z dan setelahnya). Menurut gue, ketika mereka berhasil menjadi orang yang bermental baja itu bukan semata-mata untuk kebaikan kita, orang yang lebih tua, tapi buat mereka. Jadi seharusnya, bukan kita yang ingin, tetapi mereka yang seharusnya disadarkan kalau memiliki kualitas dan mental yang baik adalah hal yang penting bagi mereka. Karena kalau kita yang "memaksudkan" kondisi-kondisi agar mereka bisa bermental baja, gak akan efektif. Toh sasarannya belum tentu mau menjadi hal yang kita inginkan.

Kedua masalah memberi kemudahan. Hmm. Bukannya harusnya senang ya? Karena keberadaan kita semua saat ini juga adalah hasil dari kemudahan, loh. Sekarang bisa kemana-mana naik motor / mobil, bisa akses apapun dengan internet yang memadai, dan lain sebagainya. Kembali lagi, ini gue hanya mengansumsikan kemudahan-kemudahan yang dia maksudkan di postingannya ya, karena dia gak nyantumin apapun tentang "kemudahan" yang dia maksud. Tapi kalau memang benar, bukankah harusnya kita senang dan bangga? Karena ini tandanya kehidupan kita sebagai manusia terus maju dan berkembang. Kenapa kita harus berharap mereka mengalami kesulitan seperti kesulitan yang kita, atau mungkin lebih relate orang-orang yang lebih tua dari kita alami, mereka akan alami juga, demi terbentuknya "mental baja"?.

Lagipula, menurut gue, yang  namanya kesulitan itu gak perlu diwarisi. Masing-masing dari kita akan menghadapi kesulitan kok. Mungkin menurut teman ini sekarang anak-anak hidupnya lebih enak karena sudah mendapat jawaban dari kesulitan yang mungkin waktu teman ini hadapi, belum ada jawabannya. Padahal kalau kita lihat, kesulitannya tetep ada dan akan selalu berkembang juga. Sebagai contoh. Dulu kita (enggak, sih, orang-orang di generasi sebelum kita) merasa sulit pakai internet. Sekarang, internet udah ada di genggaman orang-orang dari kecil sampai lansia sekalipun. Lalu kalau disandingkan dengan pertanyaan dia, seakan-akan orang-orang tua kita dari generasi sebelumnya bilang "Ih dulu saya mah mana ada interner-internet gini. Cari informasi harus beli buku ke gramedia, atau langganan koran. Gak ada juga bikin email-email gini. Tulis surat pakai tangan, dong! Ayo pokoknya kamu harus ngalamin yang saya alamin biar kamu jadi mental baja!". Padahal, mereka juga tetap belajar kok ilmu-ilmu itu, hanya penerapannya sekarang digital. Toh pemakaian kertas saat ini juga harus diperhatikan, kan? Keadaannya jelas sudah berbeda. Justru aneh kalau mereka lebih memilih cara konvensional yang memakan effort lebih banyak dan waktu lebih lama dibanding menggunakan platform digital.  

Lantas, apakah itu berarti nanti kalau teman ini punya anak dia akan "buat" sedemikian rupa agar anaknya mengalami kesulitan dengan pemikiran "Dulu aku kayak begini dididiknya, makanya aku kuat. Dia harus jadi sama seperti aku". Kalau itu ditanyakan ke gue, gue rasa, gue akan jawab enggak. Malah menurut gue dengan semua kemudahan yang ada, challenge kita bukan lagi untuk ngajarin mereka agar "memundurkan" kualitas berkehidupan mereka dengan terus-terusan menjadi orang yang hidup dengan gaya konvensional, tapi mengajarkan mereka gimana dengan semua kemudahan yang mereka terima, mereka bisa berinovasi lagi dan bijak untuk hidup berdampingan dengan kemudahan yang ada. Karena masalah akan terus muncul. Kehidupan manusia dengan segala keperluannya yang makin berkembang, solusi bakal terus berkembang juga. Gak mungkin kan, kita setiap hari masak pakai kayu bakar terus?

Terakhir, dia buat pertanyaan dulu saya susah saya tidak mau anak saya susah. Gue juga kurang tau nih maksudnya apa, ke arah mana. Tapi gue pribadi setuju banget sama ini. Gue gak akan mau biarin anak gue susah.

Tapi kembali lagi, bagi gue, membentuk anak generasi selanjutnya itu, tidak harus jadi seperti kita. Karena, justru standar yang ada di depan mata mereka adalah menjadi lebih dari kita. Jadi, gak perlu repot-repot membentuk mereka menjadi sama seperti kita, tetapi mempersiapkan mereka untuk menjadi bijak dan mahir mempresentasikan diri dan kehidupannya di dalam keadaan yang pasti jauh lebih berkembang nantinya.

.

cheers!

Comments