Postingan kali ini adalah postingan perayaan atas salah satu pencapaian tertinggi dalam hidup gue, yaitu selangkah lebih dekat dengan gelar sarjana.
Mungkin sebelumnya gue harus menjelaskan alasan, kenapa gue anggap hal ini seperti itu (di atas).
Hal pertama adalah karena gue sebenarnya bukan orang yang suka belajar. Gue gak suka belajar in general. Jadi untuk bisa menempuh pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan adalah salah satu hal yang besar banget buat gue. Lebih gilanya lagi adalah karena gue bisa survive sampai saat ini. Tahun terakhir dari perkuliahan gue. Sound's crazy yet unbelievable.
Bahkan di titik ini gue bisa sombongin satu hal dari kakak gue, yaitu gue 'hampir' kelar, dan dia enggak. Terlepas dari apapun alasannya kenapa dia gak lanjutin kuliahnya, but at the end, I am the one who nearly there. I am really that close to the bachelor degree!
Hal kedua adalah karena gue akan menjadi sarjana pertama di keluarga gue. Di antara bokap, nyokap, kakak, dan adek gue. Gue akan jadi pioneer sarjana di keluarga ini. Oke sekarang kepala gue udah mulai agak gede, dikit. AHHAHAHAHAHA.
Hal ketiga adalah gue bisa survive. Itu tadi yang gue singgung di point pertama. Tapi di point ini, dan juga akan jadi pembahasan utama di paragraf-paragraf berikutnya betapa perjuangan gue buat survive adalah hal yang bener-bener gue syukuri, gue kasih jempol, medali, piala, dan penghargaan di dalam perjalanan ini.
Lima Agustus tahun 2018 gue resmi mulai hidup baru di lingkungan yang gue bisa bilang ini bener-bener lingkungan baru. Walaupun secara frame sosial masih sama kulturnya karena ini masih di kota besar (even bigger than bekasi, socially speaking). Tapi untuk survive di sini, it's huge.
Kenapa? Pertama adalah karena gue simply hanya kenal dua orang di sini. Temen gue yang jebol masuk ke kampus dan fakultas yang sama, dan kakak tingkat yang buat gue akhirnya bisa masuk ke sana. Tapi permasalahan lainnya adalah, temen seperjuangan gue yang masuk juga ke kampus ini bukan temen dekat gue. Kita satu sekolah selama SMA, dan gue bahkan gak inget seberapa intens gue ngomong sama dia selama sekolah dulu. Kita beda kelas, beda circle pertemanan, beda ekskul, hampir semuanya beda. Jadi turns out, ya gak deket-deket banget juga pas di kuliahan. Kakak kelas yang gue mention sebelumnya adalah kakak tingkat tiga tahun di atas gue, yang artinya ketika gue masuk, dia lagi magang. Gak ada di sana. So, all I can say, generally, I was alone, at that time.
Selain itu, ini adalah kali pertama di mana gue gak punya siapa-siapa yang tau kegiatan gue. I am completly taking risks to take care of myself. Gue bukan orang yang dependent sebenernya. Gue tau gue bisa mengurus diri sendiri. Cuma gue gak pernah tau dan gak pernah ngebayangin kalau rasanya bakal sesepi itu. se-lonely itu.
Gue dapet seorang mentor yang baik banget dan menyayangi gue dengan sangat luar biasa sebenernya. Siapa yang mau lawanan sama gue soal fakta ini? Gak bakal ada yang bisa menang. Dia adalah orang yang dari gue pertama dateng, nyambut gue, bawain tas gue, nulisin nama gue, nalangin uang peralatan asrama gue karena gue kalut banget pas dateng waktu itu dan gue cuma bisa bengong sepanjang penyambutan wkwkkwkw. Dia yang nyetrikain baju ospek gue, yes, nyetrikain. Dia yang setia nungguin gue tidur dan matiin laptop serta ngerapiin laptop gue tiap gue ketiduran. Nyiapin vitamin, dan semua kebutuhan gue. Dua minggu pertama sama dia gue berasa balik jadi anak bayi yang baru bisa jalanWKWKWKKWKW.
Tapi ya tetep, gak bisa bohong. Rasa sepi itu tetep aja ada. Gue rasa, itu adalah masa-masa di mana gue bener-bener diem, gue gak pernah keluar kemana-mana kecuali ke supermarket untuk beli sabun dll, dan bolak balik ke tempat fotocopy buat perbanyak berkas identitas yang dibutuhin selama perkuliahan. Sepi banget. Gue ngerasa di titik itu, hidup gue kayak upside down. Kadang gue mikir, "Apa gue pas sekolah kebanyakan ngomong ya? Jadi sekarang gue dihukum sama Tuhan buat diem aja". Mentor gue pun beberapa kali negur gue biar gue bisa berteman dan buka diri sama yang lain, tapi, rasanya aneh.
Karena gue tau konteks anak-anak di fakultas gue semua adalah anak beasiswa dan datang dari seluruh penjuru Indonesia, gue tau gak akan semudah itu untuk cari temen yang mau ngerti dan sefrekuensi sama gue, gue takut gue gak bisa mengimbangi mereka. Jadi diam adalah satu-satunya safe-place gue untuk satu semester pertama yang menurut gue jadi milestone besar!
Di sisi lain, gue tau dengan pindah ke sana, gue menjadi seseorang yang siap untuk memulai hidup baru seutuhnya. Gue akhirnya merasa gue siap, mampu, dan bisa merubah semua titik-titik kehidupan yang gue rasa gue perlu ubah. Persona, kepercayaan diri, kemampuan, dan rasa mencintai diri sendiri.
Semua orang tau gue lemah dalam titik-titik ini. Gue udah terlanjur terbiasa dikenal sebagai orang yang cuek sama apapun, termasuk diri sendiri. Jadi segala bentuk mencintai diri sendiri bukanlah hal yang gue lakukan selama sekolah, bahkan gue bisa-bisanya ngeledekkin orang lain yang melakukan hal itu, karena bagi gue itu hal yang aneh. AHAHAHHAHAH
Doa gue terkabul. Gue sedikit demi sedikit bisa merubah diri gue jadi versi yang lebih baik dan lebih sayang sama diri sendiri. Ya walaupun, pas pertamanya ya jelas diledekkin. Hampir semua temen lama gue di SMA bilang "Ih lo begini sekarang?" "Loh kok lo tumben banget begini?" dan lain-lain. Malu? iya tentu aja. Tapi dalam perjalanan panjang untuk gue bisa menerima diri gue dengan seapa adanya gue, semua ledekkan, dan hinaan orang-orang jadi harga yang harus gue bayar dan gue bayar lunas pada akhirnya.
Semua perjuangan yang gue tulisin ini memang "Baru awal" dari tiga tahun istimewa yang gue laluin ini. Itu dia alasan kenapa gue sangat merayakan hari ini. Lima Agustus ketiga dan terakhir dalam masa pendidikan gue di perkuliahan. Gue juga kaget kalau gue ternyata udah sampe sini.
Gue yang dulu adalah orang yang setiap semesternya ngitungin "Berapa hari lagi ya libur?" sampai jadi orang yang "Oke, gue harus bertahan sedikit lagi"
Gue dulu adalah orang yang setiap semester mikirin untuk keluar dari kampus, sampai jadi orang yang memiliki rasa kepunyaan dan gak mau kehilangan apa yang gue punya sekarang.
Gue dulu adalah orang yang 'PERNAH' memutuskan untuk jadi orang yang jahat, dalam arti, gak mau ngapa-ngapain di kampus. Mau jadi mahasiswa pasif aja. Gak mau ngembangin bakat gue, sampai jadi ketua himpunan di prodi gue.
Lima Agustus ketiga dan terakhir buat gue. cheers!
Comments
Post a Comment